KPRI
Kabar PergerakanJaringan

Mengorganisir Dapur, Merebut Otonomi: Siasat Konsumsi Kolektif Koperdja di Jatinangor

11 Juli 2026
Koordinator Bidang Pendidikan dan Riset KPRI

Di tengah corak produksi kontemporer yang semakin meminggirkan kelas pekerja, ruang reproduksi sosial kerap kali luput dari kalkulasi politik gerakan. Perjuangan serikat buruh secara tradisional cenderung mengonsentrasikan energinya pada ruang produksi—menuntut kenaikan upah nominal, perbaikan kondisi kerja, atau menolak pemutusan hubungan kerja sepihak. Namun, ketika upah berhasil dinaikkan, sirkuit kapitalisme global telah bersiap di pintu keluar pabrik atau kantor untuk menyerap kembali kapital tersebut melalui jaringan ritel komoditas kebutuhan harian.

Kontradiksi inilah yang melatari agenda Riset Aksi Partisipatif (Participatory Action Research) mengenai penataan konsumsi yang diinisiasi oleh Konfederasi Pergerakan Rakyat Indonesia (KPRI). Bertempat di Rumah Literasi Jatinangor (Rumsi Jatinangor), forum ini mempertemukan puluhan ibu pekerja yang tergabung dalam Konsolidasi Pekerja Padjadjaran (Koperdja). Koperdja merupakan serikat pekerja Kebersihan, Kenyamanan, dan Keindahan Lingkungan (K3L) di lingkungan Universitas Padjadjaran yang didirikan pada tahun 2017 melalui kerja-kerja pengorganisasian intensif oleh kader mahasiswa KPRI. Seiring dengan pembesaran strukturnya, Koperdja kemudian mengonsolidasikan diri ke dalam Konfederasi Serikat Nasional (KSN). Pertemuan di Rumsi Jatinangor ini menandai babak baru dalam strategi mereka: memperluas medan juang dari wilayah upah menuju wilayah konsumsi.

Makroekonomi Domestik: Ekstraksi Nilai di Ruang Reproduksi

Untuk memahami urgensi penataan konsumsi, kita harus melihat struktur ekonomi-politik makro secara jernih. Struktur ekonomi nasional pada dasarnya ditopang oleh konsumsi rumah tangga rakyat pekerja. Berdasarkan data, sebagian besar pendapatan kelas pekerja di Indonesia segera habis terserap untuk kebutuhan konsumsi pokok (pangan, energi, dan kebutuhan domestik harian).

Dalam sirkuit kapital, upah yang dibayarkan oleh pemberi kerja sebenarnya berfungsi sebagai biaya reproduksi tenaga kerja (reproduction of labor power). Pekerja membutuhkan kalori, kebersihan, dan tempat tinggal agar keesokan harinya mereka bisa kembali bekerja secara produktif. Ironisnya, proses reproduksi ini sepenuhnya dikuasai oleh pasar bebas. Jaringan distribusi kebutuhan harian dikuasai oleh oligopoli pangan dan duopoli ritel modern skala nasional. Akibatnya, terjadi ekstraksi nilai surplus ganda: pekerja dieksploitasi di tempat kerja melalui upah yang murah, lalu nilai upah yang tersisa tersebut diperas kembali di pasar melalui harga eceran yang telah ditumpangi margin keuntungan kapitalis besar.

Kebocoran ekonomi yang masif dan konstan dari dompet pekerja ke kantong konglomerat ritel inilah yang menjadi penyebab fundamental tumpulnya kekuatan ekonomi kelas pekerja. Ketidakberdayaan ekonomi ini pada gilirannya menciptakan ketergantungan logistik gerakan terhadap kekuatan eksternal. Dalam sejarah gerakan sosial, ketergantungan finansial pada aktor-aktor eksternal ini bertindak sebagai alat penjinak yang efektif. Pendanaan luar sering kali datang dengan syarat-syarat yang memoderasi gerakan, membelokkan agenda politik kelas menjadi sekadar advokasi kebijakan yang legalistik dan kompromistis, serta mencabut otonomi politik pekerja. Penataan konsumsi, dengan demikian, adalah intervensi struktural untuk memutus rantai ketergantungan tersebut.

Memuat gambar
Sesi Diskusi Refleksi aktivitas konsumsi harian rumah tangga buruh dalam upaya penyadaran pada potensi ekonomi kelas pekerja melalui penataan konsumsi dan belanja kolektif

Geometri Ekonomi Solidaritas: Mengubah Konsumsi Atomistik Menjadi Kolektif

Secara teknis, proyeksi yang ditawarkan oleh KPRI-KSN adalah membalikkan logika pasar individualistis (atomistik) menjadi kekuatan ekonomi kolektif. Selama ini, buruh membeli kebutuhan pokok secara sendiri-sendiri di pasar eceran dengan harga tertinggi. Jika tindakan konsumsi ini dikonsolidasikan di bawah kelembagaan serikat, posisi tawar buruh bergeser secara drastis dari konsumen eceran menjadi pembeli skala besar (grosir) yang mampu memotong perantara dalam rantai pasok.

Pada sesi pertama workshop, para peserta terlibat dalam diskusi reflektif untuk membongkar ilusi belanja harian. Belanja eceran yang terkesan kecil secara nominal sebenarnya akumulasi dari inefisiensi biaya yang sangat tinggi. Di papan tulis Rumsi Jatinangor, sebuah simulasi perhitungan matematis-ekonomis disusun secara partisipatif untuk memetakan potensi kapital yang mengendap di dalam serikat:

  • Rata-rata konsumsi domestik bulanan per anggota: Rp2.500.000
  • Total basis masa aktif Koperdja: 274 orang
  • Agregat perputaran kapital bulanan: Rp2.500.000 x 274 = Rp685.000.000

Angka mendekati 700 juta rupiah per bulan ini adalah potensi ekonomi riil yang selama ini mengalir keluar tanpa membekas dalam struktur organisasi. Melalui mekanisme belanja bersama (collective purchasing) langsung ke distributor utama, serikat diperkirakan dapat mengklaim potongan harga volume (volume discount) yang berkisar antara 10% hingga 20%. Dengan diskon sebesar 10%, potensi surplus bulanan yang dapat diselamatkan diperkirakan mencapai Rp68.500.000, sehingga potensi surplus yang dapat diselamatkan dalam satu tahun mencapai sekitar Rp822.000.000.

Sementara itu, dengan diskon sebesar 20%, potensi surplus bulanan yang dapat diselamatkan diperkirakan mencapai Rp137.000.000, yang berarti potensi surplus tahunan yang dapat diselamatkan mencapai sekitar Rp1.644.000.000. 

Surplus yang berhasil diselamatkan dari sirkuit kapital ritel ini tidak dialokasikan kembali sebagai dividen individu yang konsumtif, melainkan ditahan di dalam organisasi sebagai basis akumulasi modal awal. Modal kolektif inilah yang diproyeksikan untuk mendirikan kelembagaan ekonomi serikat secara bertahap dan terencana.

Memuat gambar
(Rain/Rumsi Jatinangor) sedang menjelaskan kepada ibu-ibu K3L teknis pendataan konsumsi harian melalui buku belanja harian yang sudah disiapkan oleh KPRI

Alurnya bergerak secara gradual: dimulai dari pendirian koperasi konsumsi yang menyediakan kebutuhan pokok murah untuk internal anggota, berkembang menjadi unit-unit bisnis serikat, hingga akhirnya bertransformasi menjadi koperasi produksi yang mampu memproduksi komoditasnya sendiri. Ini adalah cetak biru dari sebuah ekosistem ekonomi tertutup (closed-loop economy). Sebuah benteng material di mana modal berputar di antara kelas pekerja sendiri, menciptakan lapangan kerja internal, dan membiayai kerja-kerja politik gerakan tanpa harus berkompromi dengan penyanderaan donor eksternal.

Epistemologi dari Catatan Belanja: Metodologi Pendataan Lapangan

Strategi ekonomi yang ambisius ini tidak akan berjalan tanpa akurasi data material yang kokoh. Oleh karena itu, fase pertama dari riset aksi ini difokuskan pada kedisiplinan pencatatan data primer. Langkah ini dipandu oleh Yoga, dari Rumsi Jatinangor, yang memaparkan metodologi pengisian instrumen rekapitulasi konsumsi secara sistematis kepada para peserta.

Pelatihan teknis ini memeberikan pemahaman kepada para ibu pekerja untuk mencatat setiap pengeluaran finansial domestik mereka tanpa terkecuali. Proses pendataan dibagi ke dalam matriks yang rigid:

  1. Klasifikasi Berkala: Rekapitulasi pengeluaran yang disusun dalam dimensi harian, mingguan, hingga akumulasi bulanan untuk melihat pola likuiditas rumah tangga buruh.
  2. Variabel Komoditas yang Spesifik: Anggota diwajibkan mendata nama item secara detail, merek produk yang digunakan, volume atau satuan terkecil, harga riil di tingkat warung lokal, serta frekuensi pembelian dalam satu bulan.
  3. Kedisiplinan Log Harian: Prosedur wajib bagi setiap anggota untuk mencatat pengeluaran secara langsung pada hari yang sama guna menghindari bias memori (recall bias).

Pencatatan ini tidak boleh dipandang sekadar sebagai aktivitas pembukuan keuangan rumah tangga biasa bercorak borjuis yang menekankan asketisme ekonomi (hemat pangkal kaya). Dalam perspektif progresif, pencatatan ini adalah sebuah kerja epistemologis—sebuah metode ilmiah bagi kelas pekerja untuk menyingkapkan anatomi eksploitasi yang mereka alami setiap hari. Dengan menuliskan ke mana setiap rupiah mengalir, para pekerja sedang memetakan rantai pasok kapitalis yang menghisap mereka, sekaligus mengidentifikasi komoditas apa saja yang paling mendesak untuk segera ditarik dari pasar bebas menuju tata kelola kolektif serikat.

Memuat gambar
(Riza/Rumsi Jatinangor) sedang membimbing ibu-ibu Koperdja dalam pengisian buku belanja harian yang akan menjadi sumber data yang digunakan untuk menganalisa potensi ekonomi dalam aktivitas konsumsi rumah tangga buruh

Pertemuan sore ini di Jatinangor menghasilkan satu kesimpulan konkret: komitmen kolektif untuk mendisiplinkan diri dalam pencatatan pengeluaran selama satu bulan penuh. Langkah ini krusial untuk menghasilkan basis data empiris yang akan menunjukkan secara eksak berapa nilai ekonomi riil dari konsumsi bulanan anggota Koperdja, terlepas dari angka estimasi kasar di atas kertas.

Pasca-pengumpulan data primer dari dompet domestik para ibu pekerja, tahapan riset aksi selanjutnya akan beralih ke tangan tim analisis KPRI. Data mentah tersebut akan diinput, dikategorisasikan, dan dianalisis secara struktural. Output dari analisis ini berfungsi sebagai dokumen strategis organisasi—sebuah kompas taktis yang memetakan potensi ekonomi mana yang paling siap, paling menguntungkan, dan paling rasional untuk segera direbut serta dikelola secara mandiri oleh serikat.

Melalui riset aksi penataan konsumsi ini, KPRI dan Koperdja sedang menawarkan sebuah redistribusi kekuasaan yang subtil namun mendasar. Mereka sedang membuktikan bahwa perlawanan kelas tidak selamanya berbentuk konfrontasi terbuka di jalan-jalan protokol atau pemogokan di gerbang instansi. Sering kali, perlawanan yang paling efektif justru dimulai dari tindakan-tindakan sederhana seperti: mendisiplinkan catatan belanja, mengonsolidasikan daya beli kolektif, dan secara perlahan namun pasti, menyumbat kebocoran kapital demi tegaknya kemandirian politik kelas pekerja.

 

Baca Juga

Artikel Terkait

Lihat Semua
Kelas Buruh: Memajukan Peran Serikat yang Berdaya
Kabar Pergerakan

Kelas Buruh: Memajukan Peran Serikat yang Berdaya

Kelas Buruh ketujuh membahas Perjanjian Kerja Bersama (PKB) sebagai instrumen utama dalam membangun hubungan industrial yang setara antara pekerja dan manajemen Unpad. Diskusi mengulas substansi PKB, tantangan gerakan serikat pekerja, pentingnya pengorganisasian, perlindungan hak pekerja, hingga kemandirian organisasi melalui Check-Off System (COS). PKB dipahami sebagai fondasi perlindungan sekaligus penguatan posisi tawar pekerja dalam memperjuangkan hak-haknya.

17 Juli 2026
(Bagian-2) Hutang Budi Negara Kepada Para Pensiunan Angkasa Pura
Kabar Pergerakan

(Bagian-2) Hutang Budi Negara Kepada Para Pensiunan Angkasa Pura

Tulisan bagian 2 tentang kasus penggusuran yang dialami oleh para pensiunan Angkasa Pura yang sudah berkontribusi besar dalam membangun kredibilitas bandara Soekarno-Hatta namun harus merasakan bentuk ketidakadilan di masa senja usia mereka

06 Juli 2026
Kelas Buruh: Dari Istilah Kecil Menuju Gugatan Besar
Kabar Pergerakan

Kelas Buruh: Dari Istilah Kecil Menuju Gugatan Besar

Pertemuan keenam Kelas Buruh membahas fondasi penyusunan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) melalui pembacaan kritis terhadap regulasi ketenagakerjaan dan pemahaman istilah-istilah dasarnya. Dari definisi upah hingga hak kerja, setiap konsep menjadi pijakan untuk menyusun tuntutan yang lebih kuat. Sebab, perjuangan buruh tidak hanya dimulai dari aksi, tetapi juga dari penguasaan pengetahuan sebagai alat melawan eksploitasi.

03 Juli 2026
(Bagian-1) Hutang Budi Negara Kepada Para Pensiunan Angkasa Pura
Kabar Pergerakan

(Bagian-1) Hutang Budi Negara Kepada Para Pensiunan Angkasa Pura

Mereka yang membangun sayap bangsa, di usia senja terancam kehilangan atap di atas kepala (Bagian-1)

02 Juli 2026

Dukung Perjuangan Rakyat Indonesia

Bersama kita wujudkan tatanan masyarakat yang adil, setara, dan sejahtera.